Oleh Kodar Solihat

Tampak masih gagah dan terawat, sebuah bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda di Jalan Wastukancana no.5 Bandung. Itulah bangunan yang diduga dahulunya bekas kantor perusahaan industri dan perkebunan swasta Italia, Pirelli-Java yang juga sampai kini dikenal sebagai salah satu produsen ban terkenal dunia.
Diantara kalangan pencinta sejarah di Kota Bandung, banyak yang menyangka bangunan di Jalan Wastukancana no.5 tersebut dahulunya adalah bekas salah satu tempat usaha milik Ursone bersaudara di Lembang, utara Bandung yang juga asal Italia. Namun sebenarnya, bangunan dimaksud adalah bekas perusahaan Pirelli yang semasa zaman kolonial Belanda, yang mengelola perkebunan karet Bunisari-Lendra (kini Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut).
Diketahui, ban kendaraan memiliki bahan baku dari karet, dimana pada zaman dahulu perusahaan Pirelli juga menjual aneka produk ban di Kota Bandung. Sebagai bahan baku, diambil dari perkebunan miliknya, yaitu Perkebunan Bunisari-Lendra yang pada masa lalu masih termasuk Distrik Pameungpeuk, Garut.
Perkebunan Bunisari-Lendra masih eksis, dan kini menjadi salah satu unit perkebunan yang dikelola perusahaan perkebunan milik negara, PT Perkebunan Nusantara VIII. Berdasarkan catatan penulis dari JabarAgro, Perkebunan Bunisari-Lendra dahulunya merupakan penggabungan Perkebunan Bunisari dan Perkebunan Lendra, ditambah Perkebunan Cisompet dan Perkebunan Bangsasinga, dengan jenis komoditas pokok yang diusahakan dominan masih tanaman karet, disamping pada tahun 1970-an sampai tahun 2011 pernah diusahakan pula kombinasi dengan tanaman cengkeh dan kakao.
Tak banyak kisah terkait Perkebunan Bunisari-Lendra semasa zaman kolonial Belanda (sampai tahun 1942) lalu, yang tercatat dalam arsip sejumlah suratkabar yang tersimpan di Koninklijke Bibliotheek Delpher Belanda. Namun bahwa keberadaan bangunan bekas perushaan Pirelli tersebut tercantum pada sebuah iklan pada suratkabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië terbitan 7 Agustus 1922, dimana kantor perusahaan perdagangan Pirelli beralamat di Logeweg 5, Bandung.
Gambaran bahwa Jalan Wastukancana dahulunya bernama Logeweg, ditelusuri penulis dari penampakan peta Kota Bandung lansiran tahun 1945 dan 1946 yang arsipnya tersimpan di Centrale Bibliotheek Koninklijke Intituut voor de Tropen Amsterdam Belanda dan Universitas Leiden Belanda. Jika merunut nomor urut sejak gereja di pertigaan jalan, alamat Logedweg yang kin sudah berubah nama menjadi Jalan Wastukancana Bandung, susunan nomor bangunan tak mengalami perubahan.

Kodar Solihat/”JA”
Bangunan bekas kantor perusahaan Pirelli di Jalan Wastukancana, Bandung. *


Sedangkan berdirinya Perkebunan Bunisari-Lendra, diberitakan Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië pada 9 November 1906, dimana pada 7 November 1906 sebuah perusahaan di Surabaya bernama “Exploitatie Maatschappijfl Boeloepinggir” Plantagen Gesellschaft milik Jerman telah mendirikan Perkebunan Bunisari.
Dalam perjalanannya, Perkebunan Bunisari kemudian berganti pemilikan, dengan diberitakan Algemeen Handelsblad terbitan 15 Juni 1920, bahwa perkebunan karet Bunisari telah dijual kepada perusahaan pabrik ban Pirelli yang berpusat di Milan, Italia, seharga 1,35 juta Gulden. Pembelian oleh Pirelli tersebut, tak terlepas dari kepentingan Italia untuk memiliki perkebunan karet di Hindia Belanda.
Perkebunan Bunisari kemudian memiliki jaringan instalasasi listrik mandiri, diberitakan De Indische courant pada 19 Desember 1929, dimana direksi perusahaan itu memberikan izin pemasangan jaringan listrik mandiri untuk bagian Perkebunan Lendra.

Nationaal Museum van Wereldculturen Rotterdam-Tropenmuseum Amsterdam
Rumah dinas orang Eropa di Perkebunan Lendra tahun 1925. *


Catatan unik yang terjadi di Perkebunan Bunisari-Lendra, Provinciale Overijsselsche en Zwolsche courant pada 17 September 1931 memberitakan, dimana pada sebuah kampung diantara Perkebunan Bangsasinga dengan Perkebunan Bunisari. Kebakaran ini disebabkan ulah bocah lelaki yang bermain api, yang menyebabkan 53 rumah terbakar habis dalam waktu setengah jam. Pihak Perkebunan Bunisari kemudian memberikan bantuan kepada para penduduk kampung tersebut.
Namun pernah ada pula kerusuhan terjadi di Perkebunan Bunisari, seperti diberitakan Het volksdagblad terbitan 12 April 1940, terjadi mogok kerja dilakukan 20 buruh di Perkebunan Bunisari. Kono, konflik itu dipicu perilaku kasar pejabat kulit putih terhadap para buruh tersebut.
Pasca berdirinya Republik Indonesia, berdasarkan pemberitaan Trouw terbitan 7 Juli 1958, perusahaan Perkebunan Bunisari dilikuidasi, dimana saat itu karyawannya ada 700 orang. Ini terjadi karena Perkebunan Bunisari kemudian diambilalih oleh Pemerintah Indonesia dari pengelolanya induk terakhirnya, yaitu Nederlandse Handels Maatschappij Factorij di Jakarta. (Kodar Solihat/JabarAgro). ***

Tinggalkan Balasan